Rahasia Takdir?

Pernah membaca sebuah pertanyaan, posting ampe artikel yang membahas masalah takdir, nasib dan sebagainya. Dari itu saya jadi terpikir untuk mencari tau secara detail sebenarnya soal takdir. Apa sih takdir itu? sama atau tidak antara takdir dan nasib? bisa gk sih kita merubah takdir/nasib?. beberapa bulan ini saya hampir selalu mencari pembahasan mengenai takdir. Akhirnya setelah banyak bertanya, banyak mencari, dan banyak membaca saya mendapatkan pembabaran soal takdir, semoga Tuhan memaafkan atas ketidak tahuan ini. dan semoga Tuhan selalu memberikan ilmu yang selalu mencerahkan kepada saya amin.

Jadi ini beberapa hal yang saya ambil dari hasil membaca buku dan sekadar sharing dari temen temen.


Takdir dalam agama Islam

Umat Islam memahami takdir sebagai bagian dari tanda kekuasaan Tuhan yang harus diimani sebagaimana dikenal dalam Rukun Iman. Penjelasan tentang takdir hanya dapat dipelajari dari informasi Tuhan, yaitu informasi Allah melalui Al Quran dan Al Hadits. Secara keilmuan umat Islam dengan sederhana telah mengartikan takdir sebagai segala sesuatu yang sudah terjadi.
Untuk memahami konsep takdir, jadi umat Islam tidak dapat melepaskan diri dari dua dimensi pemahaman takdir. Kedua dimensi dimaksud ialah dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan.

Dimensi ketuhanan

Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir.
  • Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (Al Hadid / QS. 57:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang).
  • Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya) (Al-Furqaan / QS. 25:2)
  • Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah (Al-Hajj / QS. 22:70)
  • Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (Al Maa'idah / QS. 5:17)
  • Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya (Al-An'am / QS 6:149)
  • Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (As-Safat / 37:96)
  • Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan (Luqman / QS. 31:22). Allah yang menentukan segala akibat.

Dimensi kemanusiaan

Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang meginformasikan bahwa Allah memperintahkan manusia untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidup yang dipilihnya.
  • Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (Ar Ra'd / QS. 13:11)
  • (Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Al Mulk / QS. 67:2)
  • Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Nasrani, Shabiin (orang-orang yang mengikuti syariat Nabi zaman dahulu, atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa), siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan beramal saleh, maka mereka akan menerima ganjaran mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak juga mereka akan bersedih (Al-Baqarah / QS. 2:62). Iman kepada Allah dan hari kemudian dalam arti juga beriman kepada Rasul, kitab suci, malaikat, dan takdir.
  • ... barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir... (Al Kahfi / QS. 18:29)

Implikasi Iman kepada Takdir

Kesadaran manusia untuk beragama merupakan kesadaran akan kelemahan dirinya. Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Kemampuan berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manuisa hanya tahu takdirnya setelah terjadi. Oleh sebab itu sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya. Usaha perubahan yang dilakukan oleh manusia itu, kalau berhasil seperti yang diinginkannya maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri. Bahkan sekiranya usahanya itu dinialianya gagal dan bahkan manusia itu sedih bermuram durja menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarang juga (Al Hadiid QS. 57:23).
Kesimpulannya, karena manusia itu lemah (antara lain tidak tahu akan takdirnya) maka diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah. Dalam menjalani hidupnya, manusia diberikan pegangan hidup berupa wahyu Allah yaitu Al Quran dan Al Hadits untuk ditaati. (sumber: Wikipedia)

Dari artikel diatas saya masih belum memahami betul tentang cara kerja takdir, (Ampuni saya ya Allah atas kekhilafan ini). Masih banyak pertanyaan di pikiran mengenai detail definisi takdir. Pernah sekali saya bertemu dengan teman lama (bisa dibilang begitu karena jarang bertemu) dan kebetulan dia lulusan dari pondok. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk sekadar sharing mengenai pengetahuanya tentang keagamaan yang pernah didapat dulu di pondok khususnya masalah takdir.

Dari beberapa sharing dan pertanyaan ada beberapa hal yang saya garis bawahi dan cukup mencerahkan. maafkan juga kalau kalau sahring ini masih ada kesalahan dalam mengartikan takdir karena teman saya juga berkata saya hanya memberikan jawaban sesuai pendapat yang pernah dia pelajari, semoga jika ada pembaca yang membaca artikel ini bisa meluruskannya. Pernyataan yang cukup mencerahkan adalah ternyata nasib itu hanyalah ada di dimensi manusia, yang ada hanyalah istilah takdir, dan karena takdir merupakan hak mutlak Allah swt maka manusia lebih enak menggunakan kata nasib sebagai prosesnya. Jadi nanti saya lebih banyak menggunakan kata nasib agar lebih enak (enak?..hehehe). 
Point kedua, dari artikel diatas mengartikan takdir sebagai segala sesuatu yang sudah terjadi. Jadi bisa dinamakan takdir kalau segala sesuatu itu sudah terjadi. Saya jadi berpikir berarti kalau yang belum terjadi belum bisa disebut takdir, saya jadi lebih positif thingking seandainya takdir adalah sesuatu yang belum terjadi kenapa saya tidak berpikir bahwa Tuhan telah menakdirkan saya dengan hal yang sedang saya inginkan, walaupun memang takdir adalah hak mutlak Allah, hanya Allah yang tahu. Dari pernyataan itu saya lebih banyak menggunakan kata nasib sebagai prosesnya dan saya lebih mengerti apa arti dari usaha dan doa, sesuai dijelaskan dengan ayat "Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (Ar Ra'd / QS. 13:11).
Point ketiga, Bisakah saya merubah takdir saya? Takdir memang hak mutlak Allah. Namun sesuai ayat diatas saya jadi percaya bahwa Allah akan merubah keadaan saya jika saya merubah keadaan pada diri saya. Perubahan nasib dalam prosesnya adalah dengan berusaha, berikhtiar dan berdoa sehingga kita merubah keadaan pada diri kita.
Point keempat adalah yakin, beriman.
  • Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Nasrani, Shabiin (orang-orang yang mengikuti syariat Nabi zaman dahulu, atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa), siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan beramal saleh, maka mereka akan menerima ganjaran mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak juga mereka akan bersedih (Al-Baqarah / QS. 2:62). Iman kepada Allah dan hari kemudian dalam arti juga beriman kepada Rasul, kitab suci, malaikat, dan takdir.
  • ... barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir... (Al Kahfi / QS. 18:29)
Segala sesuatu yang kita kerjakan dengan keyakinan niscaya Tuhan akan mendengarkan dan mengabulkan. Satu rahasianya adalah keyakinan, berpeganglah pada keyakinan hati, iman, positif thingking dan  positif feeling
Subhanallah, Allahuakbar, Dialah Yang Maha Memiliki alam beserta isinya, Dialah Yang Maha Berkehendak,  Dialah Yang Maha Adil, Dialah Yang Maha Pemberi Rejeki.

Terima Kasih saya sampaikan kepada Mas bro Rifki atas sharingnya, sukses selalu dengan usaha jualannya. kalau bisa bekerja sambil bekerja kenapa tidak masbro :)

Dan jika ada beberapa pernyataan yang salah mohon koreksinya, maaf saya juga sedang belajar semoga Tuhan selalu mencerahkan, dan memberikan ilmu yang terang kepada kita semua amin.

Bukan “Setia” Band

Hampir dua tahun ini aku tidak berjumpa denganmu

Rasanya rindu ini semakin biasa saja setiap harinya

Namun aku tetap masih ingin merasakan rasa tersebut

Hanya karena Satu

Yaitu janjiku…


Setiap waktu aku selalu yakin aku akan kembali padamu, begitu pun aku mengharapkanmu

Kututup sementara mata ini untuk melihat indahnya alam sekitar

Kututup sementara hati ini untuk merasakan rasa nyamannya dunia

Hanya untuk sesuatu

Yaitu janjiku….



Ehehehe sedikit lebay bolehlah. Melenceng dari daftar isi blog. Mumpung belum dilarang oleh pemerintah. kayak denda yang diberikan oleh pemerintah DKI ketika pengendara parkir di sembarangan tempat atau berteduh sebentar ketika hujan di fly over. Sedikit kata kata hati yang ingin aku tuliskan di hari ini mumpung timing nya tepat.

Menurut anda salahkan jika seseorang setia, salahkan jika mengharapkan sesuatu… aku kira hampir semua manusia yang waras pasti mengatakan tidak salah !!!! Lalu apa yang salah dengan sebuah kesetiaan.

Suatu kesetiaan akan salah apabila ditempatkan pada situasi diantaranya yang pertama, mungkin sudah tahu pasangannya tidak setia/ melanggar kesetiaannya eh kita masih setia kepada si doi. Dengan alasan ingin tetap bersama alhasil sia sia sudah kesetiaan yang telah diberikan.Yang kedua miss communication/komunikasi yang buruk. Kedua pasangan tersebut mengalami komunikasi yang buruk. Bisa karena jarang berkomunkasi ataupun salah mengartikan komunikasi yang disampaikan. Komunikasi disini banyak bentuknya bisa berbentuk tatap langsung atau bertemu, bisa melalui media tekhnologi seperti menggunakan telepon atau penggunaan kiriman seperti kiriman pulsa kiriman uang dsb hehehe heheh

Lalu siapa yang salah, jika ada pasangan diantaranya ada yang tidak setia? Menurut saya sih  ini tergantung persepsi dari masing masing individu, karena watak, karena prinsip, karena miss communication/komunikasi yang buruk, ato mungkin karena memang sudah tidak dimungkinkan suatu hubungan dipertahankan, ato bahkan sudah suratan takdir dari Yang Maha Kuasa. Jadi menurut saya tak perlu menyalahkan siapapun, instropeksi diri lebih baik ketimbang menyalahkan pihak pihak lain. Tapi kebanyakan faktor yang menyebabkan terjadi ketidaksetiaan adalah karena ada seseorang atau sebut saja pihak ketiga yang sedang mendekati salah satu diantara pasangannya. Pihak ketiga tersebut mengambil peluang dari adanya hal tersebut, ditambah satu diantara pasangan sedang membutuhkan perhatian.

Namun sepertinya jika saya menghadapi masalah seperti ini saya tidak terlalu memusingkan nya, bukan berarti saya tidak mempunyai perasaan lagi dengan dia atau tidak mau mempertahankan  hubungannya lagi. lagian toh dia sudah memilih dengan kehidupannya. Namun jodoh kan siapa tahu, hanya Tuhan Yang Maha Kuasa lah yang berhak Meridloi suatu hubungan manusia.