Manusia dan Tuhannya
Beberapa minggu yang lalu saya sempet berbincang-bincang dengan teman saya mengenai nasib. Awalnya seh karena kami sedang dalam pencarian pekerjaan istilah kerennya jobseeker :). Saat itu sehabis selesai ujian psikotes tepatnya tahap ke 2 di sebuah lembaga negara kami sempet duduk-duduk di tangga sebuah universitas tempat kami melaksanakan psikotes, kemudian dari mulut ku tiba-tiba keluar kata, "Koe percaya nasib cuy?"- Dalam dialek jawa yang artinya kamu percaya nasib cuy..- "Kira-kira kamu sependapat gk kalau kitalah yang menetukan nasib?' diubah kebahasa nasional biar mudah dibaca :). Kemudian teman saya menjawab sepakat bahwa nasib, kitalah yang menetukan. Dari obrolan itulah saya mulai mencari tentang definisi nasib beserta tetek mbengeknya. alhasil saya dipertemukan dengan sebuah buku yang membahas mengenai nasib. Dari beberapa artikel dan buku yang telah saya baca memang banyak pendapat mengenai nasib. namun saya lebih sependapat dengan buku yang satu ini, gk tau kenapa saya lebih sregg dengan isi dari buku tersebut. mungkin karena isinya lebih kearah optimisme dari pada pasrah yang biasanya dibahas sebagaian buku yang lain.
Dalam Buku itu pun terdapat bacaan ayat Alquran dan petikan mutiara yang mendukung mengenai nasib. diantaranya adalah
"Sesungguhnya telah kami ciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya" (Q.S At Tiin:4)
"Semua Ada di dalam dirimu mintalahmelalui dirimu sendiri" -Jalaludin Rumi-
"Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lengah dan ragu" -Muhammad SAW-
"...Aku dekat... Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada Ku"
(Q.S Albaqarah:186)
"Berdoalah kepada Allah dan yakinlah doa kalian dikabulkan.." -Muhammad SAW-
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu..." (QS Ibrahim :7)
Sebenarnya masih banyak lagi namun kutipan tersebut diatas yang menurut saya lebih pamungkas. (bukan sugeng pamungkas lho :) . "Terus hubungannya apa dengan perbincangan dengan teman anda?" mungkin kemudian terbesit perntanyaan itu kepada saya. Tenang akan saya jelaskan. Begini say lebih yakin kalo nasib kita lah yang mengaturnya dan Tuhanlah yang meridloi atau tidaknya nasib kita. (maksudnya nasib disini adalah perbuatan yang menyangkut tentang jalannya nasib). Terus pasti anda sedikit mengernyitkan dahi, "lah buaknnya nasib dan takdir Tuhanlah yang mengatur?" kalo dari ayat ayat diatas saya lebih condong percaya kalau takdir memang Tuhan yang mengatur, namun untuk nasib individulah yang mengatur sedangkan Tuhan yang meridloi atau tidak jalan menuju nasib itu dengan memberikan takdir dalam prosesnya.
berikut ada artikel untuk penjelasannya saya ambilkan dari http://www.rioshare.org/2013/03/perbedaan-nasib-dan-takdir.html
Sebuah dialog antara seorang murid dan gurunya mengenai konsep nasib dan takdir yang ternyata sangat sederhana.
Murid : ''Guru, apa bedanya nasib dan takdir?''
Guru : ''Saat kau berjalan dari tempatmu sekarang duduk hingga keluar dari pintu itu adalah nasibmu. Sedangkan saat kamu sedang menjalani nasibmu kemudian ditimpa meteor adalah takdir.
Namun
ternyata setelah tertimpa meteor kamu masih hidup dan punya kemampuan
telekinetik adalah takdir dan sudah menjadi nasibmu untuk meneruskan
hidupmu dengan memanfaatkan anugerah itu.''
Murid : ''Berarti ada hubungan sebab-akibat antara nasib dan takdir?''
Guru : ''Tentu saja, jika kamu menjalani nasibmu dengan menanam bibit pohon jeruk hingga kelak memanen buah jeruk adalah takdirmu.''
''Saat kamu menjalani nasibmu dengan memelihara tanaman jerukmu dengan baik dan ternyata diserang hama adalah takdirmu. Namun sudah menjadi nasibmu untuk membasmi hama itu dan menerima takdirmu berupa panen buah jeruk yang ternyata asam hingga menjadi nasibmu berusaha mengganti bibit jerukmu dan pupuknya hingga kelak engkau ditakdirkan memanen jeruk yang manis dan lebat.''
''Saat kamu menjalani nasibmu dengan memelihara tanaman jerukmu dengan baik dan ternyata diserang hama adalah takdirmu. Namun sudah menjadi nasibmu untuk membasmi hama itu dan menerima takdirmu berupa panen buah jeruk yang ternyata asam hingga menjadi nasibmu berusaha mengganti bibit jerukmu dan pupuknya hingga kelak engkau ditakdirkan memanen jeruk yang manis dan lebat.''
Murid : ''Lantas masih perlukah kita merencanakan hidup kita?''
Guru : ''Sehebat
apapun rencana hidupmu dibuat, pada akhirnya kita hanya hidup untuk
saat ini karena masa lalu sudah lewat dan masa depan masih belum tentu.''
Murid : ''Tapi bukankah tanpa rencana berarti hidup tanpa tujuan?''
Guru : ''Tujuan hidup kita adalah menjalani takdir dan mengubah nasib.''
Murid : ''Bukankah mengubah nasib harus direncanakan?''
Guru : ''Ya,
karena saat kita mengubah nasib akan membedakan takdir yang akan
ditempuh hingga akhirnya kembali lagi berputar kepada usaha kita
merekayasa nasib masing-masing.''
''Yang pasti, lakukan yang terbaik dan paling besar manfaatnya bagi lingkunganmu dengan intensitas serta kapasitas yang makin meningkat setiap saat.''
''Yang pasti, lakukan yang terbaik dan paling besar manfaatnya bagi lingkunganmu dengan intensitas serta kapasitas yang makin meningkat setiap saat.''
Murid : ''Mengapa bukan melakukan apa yang membuat kita menjadi bahagia saat melakukannya?''
Guru : ''Menjalani
nasibmu dengan bersyukur akan menjadikanmu mendapatkan takdir yang
membahagiakan, tidak hanya bagi dirimu sendiri tetapi juga orang banyak.''
”Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak
pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul
Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu
adalah mudah bagi Allah. (QS. Al Hadid : 22)
Dari definisi
tentang nasib dan takdir diatas, maka bisa disimpulkan bahwa nasib pada
umumnya digunakan untuk bagian yang diterima manusia baik berupa
kebaikan atau keburukan, kesenangan atau kesusahan. Sedangkan takdir
tidak hanya mencakup hal-hal yang terjadi pada manusia namun ia juga
yang terjadi pada seluruh makhluk lainnya di alam ini sejak zaman azali
dan sudah dituliskan di Lauh Mahfuzh. Sehingga nasib adalah bagian dari
takdir
"Lalu apa yang harus kita lakukan?". Setelah perbincangan itu saya mulai meyakinkan pada diri saya sendiri bahwa lolos tidaknya saya dalam usaha pencarian kerja sampai saya mendapatkan pekerjaan tersebut adalah sebuah pembentukan nasib bagi saya. Dan yang bisa saya lakukan adalah saya berusaha untuk meyakinkan pada diri saya bahwa Tuhan mendengarkan doa saya, bahwa saya berusaha meyakinkan diri saya sesuatu tersebut akan baik buat saya karena Tuhan meridloi nya, karena saya tahu masa depan masih misteri. Kenapa tidak kita gunakan "sebuah misteri ini menjadi sebuah optimisme"
kopinya abis, bersambung yah... ;)

0 komentar:
Posting Komentar